Data Center Arizona Ditentang Warga karena Rebutan Air
Warga Arizona menyambut pabrik chip TSMC dengan tangan terbuka, tapi menolak keras data center baru yang diusulkan dari Phoenix sampai Tucson. Padahal keduanya sama-sama butuh air di negara bagian gurun yang pasokannya makin seret. Penolakan terhadap data center Arizona ini pun datang dari koalisi warga akar rumput yang, di luar dugaan, lintas partai.
TSMC, penyelamat ekonomi Phoenix yang haus air
Kompleks TSMC menjulang abu-abu di tengah gurun, dikelilingi gunung, dengan gedung yang terus bertambah dan area parkir yang seperti tak berujung. Pabrik ini menyedot hampir 5 juta galon air per hari dari pasokan kota Phoenix. Warga menganggap harga itu sepadan, karena TSMC adalah produsen microchip terkemuka dunia dan hasil taruhan Phoenix sebelum pandemi untuk membangkitkan ekonomi yang tak pernah benar-benar pulih setelah Great Recession.
Pada 2020, saat ekonomi dunia nyaris berhenti, TSMC mengumumkan akan membuka fab, yaitu pabrik semikonduktor canggih, di Phoenix. Awalnya perusahaan memperkirakan investasi $12 miliar (sekitar Rp218 triliun) di ekonomi Arizona hingga 2029. Kini proyeksinya membengkak menjadi $265 miliar (sekitar Rp4.817 triliun), yang oleh TSMC disebut sebagai investasi asing langsung terbesar dalam sejarah Amerika Serikat. Fab kedua baru selesai dibangun, fab ketiga sedang dikerjakan, dan beberapa lagi sudah direncanakan.
Semua ini lahir dari kerja panjang. TSMC mulai mencari lokasi di AS sejak 2016 lewat permintaan proposal dengan nama sandi, dan saat itu tidak ada kota yang menang. Christine Mackay, kepala kantor pengembangan ekonomi Phoenix, menolak menyerah. Timnya bertanya apa yang kurang dari Arizona, lalu tiga tahun berikutnya menjawab keberatan itu. Pada 2019, Phoenix mengirim delegasi ke Taiwan untuk memaparkan rencana taman sains dan teknologi dengan pabrik sebagai intinya. Menurut Mackay, Arizona kini punya "C" keenam: chips. Lima lainnya adalah cattle, copper, cotton, citrus, dan climate.
Kenapa data center Arizona berbeda nasibnya
Sebagian pemimpin lokal mungkin berharap kesuksesan TSMC bisa terulang lewat proyek data center skala hyperscale. Logikanya terasa wajar: Arizona sudah punya pabrik chip terbesar di sisi timur Pasifik, plus 172 data center yang nyaris tanpa perlawanan. Tapi proyek baru yang lebih besar menuntut lebih banyak air, listrik, dan lahan daripada yang mau diberikan warga. Kini ratusan orang antre bicara di rapat dewan kota, dan warga awam yang selama dua tahun belajar soal zonasi, tata guna lahan, dan konsumsi air ikut turun tangan.
Pengembang data center menjanjikan lapangan kerja, pendapatan pajak, dan infrastruktur, dengan klaim air yang dipakai tidak sebanyak dugaan. Fasilitas Google di The Dalles, Oregon, misalnya, memakai sekitar 1,5 juta galon per hari, kira-kira sepertiga dari konsumsi kompleks TSMC di Arizona. Namun jaminan itu belum cukup menenangkan warga, karena Arizona segera kehilangan akses ke hampir 30 persen air yang selama ini didapat dari Colorado River.
Kasus ini memperlihatkan bahwa ledakan AI dan chip selalu bersinggungan dengan sumber daya lokal seperti air dan listrik. Bagi kamu di Indonesia yang mengikuti rencana pembangunan data center di dalam negeri, Arizona jadi contoh bahwa janji ekonomi saja belum tentu cukup untuk meyakinkan warga sekitar.
Konversi rupiah memakai kurs Rp18.177 per dolar AS (28 Oktober 2026), hanya sebagai perkiraan.